Dulu, fenomena ketergantungan dengan telepon genggam sering jadi topik yang hangat untuk dibahas. Sekarang, perangkat teknologi yang awam dipakai banyak orang tidak hanya telepon genggam atau akrabnya HP, tapi juga laptop, music player hingga blackberry (BB). Memang, HP masih menjadi “tentengan” wajib. Hanya kali ini fiturnya lebih gahar lagi. Mulai dari video call hingga GPS. Apalagi biaya untuk menikmati fasilitas teknologi ini juga semakin murah. Nah, akhir-akhir ini saya mengalami tiga kejadian yang membuat saya berpikir tentang sebesar apa arti sebuah perangkat teknologi, terutama teknologi komunikasi, dalam kehidupan kita. Pertama, ketika sedang berada di salah satu coffee shop sebuah mal. Saat masuk dan mulai ”menyapu” ruangan, saya melihat pemandangan yang agak berbeda. Lalu, saya mulai menghitung. Satu, dua, empat, enam… Paling tidak ada enam laptop nangkring dengan manis di meja-meja coffee shop. Setiap meja punya minimal dua penghuni plus satu laptop, dan si empunya laptop sibuk melototin layar “mainan kesayangannya”. Wah, pemandangan di sebuah kafe sekarang ini tidak saya temui saat dua tahun lalu. Sekarang, lebih mirip pemandangan di warnet daripada di kafe. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang datang berempat. Dua orang sibuk dengan laptop, satu sibuk dengan blackberry, satu lagi bengong dengan tampang kasihan minta diperhatikan. Ada yang datang berdua. Satunya sedang tenggelam dengan facebook atau youtube-nya, sementara satunya lagi membolak-balik majalah gratisan yang disediakan kafe itu. Bentuk interaksi yang hangat, intim dan santai ala kafe sepertinya mulai jarang ditemui. Sebagian pengunjung, baik yang sendiri maupun berdua ataupun rombongan, justru menikmati kegiatannya intimnya dengan gadget masing-masing. Kedua, ketika saya dan dua teman saya merencanakan cuti bareng sambil berlibur ke sebuah pantai. Awalnya sih bicara tentang lokasi pantai mana yang akan kami singgahi. Kemudian ketika mulai diskusi tentang barang apa saja yang dibawa, argumentasipun dimulai. Satu teman saya mengatakan kalau ia akan membawa semua perangkat komunikasinya. Mulai dari HP-, BB hingga laptop. Teman saya yang satu lagi menimpali, ia tidak akan membawa laptopnya tapi pasti membawa satu HP dan satu blackberry-nya. Saya spontan langsung mengeluarkan jurus-jurus kontra. Menurut saya, salah satu esensi berlibur adalah menenangkan diri. Termasuk dengan cara menjauhkan diri dari distraksi berbagai gadget yang biasa menggerayangi kita seiap hari. Email dari kantor atau klien, kolom-kolom surat kabar, tayangan di televisi, belasan SMS dari teman, deringan HP dan kotak-kotak instant messenger adalah hal-hal yang ingin saya bersihkan dari otak saya di saat berlibur. Apalagi semua perangkat itu butuh listrik. Malas juga membayangkan kami rebutan colokan untuk recharging. Mau liburan kok repot? Nah yang ketiga adalah ketika saya sedang berkumpul dengan sahabat-sahabat saya. Ketika kami sedang asyik ketawa-ketiwi, mengomentari cerita masing-masing, lama-lama kami sadar…kok ada suara yang kurang ya? sepertinya dari tadi yang seru ngerumpi cuma kami bertigaWah, ternyata satu teman kami itu malah asyik dengan BB-nya. Kami cuma bisa geleng-geleng kepala. Tiga kejadian ini sudah cukup membuat saya berpikir betapa tergantungnya kita akan teknologi, apalagi teknologi komunikasi. Mungkin hampir semua orang setuju dengan ungkapan “Lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan HP” . Saya sendiri juga harus mengakui kalau saya lumayan bergantung dengan alat komunikasi ini sejak tujuh tahun lalu. Bahkan, saat tidur saya selalu menaruh HP tidak jauh dari jangkauan tangan. Mungkin hanya pada weekend atau sedang lelah sekali saja saya tidak menyalakan atau menjauhkan HP dari wilayah pribadi. Ya, sejak 10-15 tahun lalu kehadiran HP sudah cukup menyita waktu pribadi kita, lalu sekarang muncul teknologi lain yaitu BB yang memastikan kita selalu terhubung dengan “dunia” di manapun kita berada. Namun, terasa ironis kalau segala bentuk teknologi ini tidak hanya memberi kemudahan tapi juga memberi efek negatif dalam kehidupan sosial kita, yaitu justru membuat kita terisolasi dan menjauhkan kita dari keintiman dengan orang-orang sekitar kita, termasuk orang-orang terdekat. Kafe yang biasanya merupakan simbol tempat bertemu untuk mengobrol santai dengan teman, sahabat atau orang tersayang, berangsur bergeser maknanya menjadi “warnet” dan para pengunjungnya sibuk membuat “kafe” di dunianya masing-masing, meskipun saat datang ke kafe mereka tidak sendiri. Kalau begini, jadinya bukan ‘jauh di mata dekat di hati’, tapi ‘dekat di mata jauh di hati’ karena secara fisik bersama namun tingkat keintimannya rendah. Lama-lama mungkin orang lebih nyaman berhubungan via twitter dibanding ngobrol langsung. Kita semua tahu kalau HP, BB, laptop dan kawan-kawannya itu sangat membantu dan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Tapi yuk diingat kembali, apakah kehadiran perangkat-perangkat ini membuat kualitas hubungan kita dengan orang sekitar, termasuk orang-orang terdekat, jadi semakin baik atau sebaliknya. Tidak lucu juga kan kalau jadi sering diprotes teman atau pasangan karena nggak bisa melepaskan BB dari tangan saat ber-quality time? Jangan sampai momen yang (sebenarnya) kita miliki kehilangan makna karena kita sibuk menjelajah negeri maya. Selain itu, sesekali otak kita juga perlu rileks. Lagipula kalau setiap saat dibombardir informasi, bisa-bisa sensitivitasnya berkurang lalu kita lupa untuk memperhatikan sekitar dan kehilangan waktu berkualitas untuk orang-orang terdekat juga diri kita sendiri. Keep ourselves connected but don’t forget to stay in the real world. – artikel versi cetak bisa dibaca di majalah Cleo, September 2009  | jernih | May 18, '09 1:16 AM for everyone |
saya sering kagum dengan cara-Nya. bagaimana tangan-Nya bisa menarik, menjatuhkan, menggeser, melenyapkan dan memunculkan begitu banyak hal tanpa diduga. saya termasuk orang yang percaya bahwa doa bukanlah sekadar rutinitas yang dilakukan setelah selesai ibadah atau permintaan-permintaan lirih yang kita susun rapi dan rapal menjelang tidur. doa adalah apa yang kita ucapkan. tidak hanya pada diri sendiri, tapi juga saat berhadapan dengan orang lain. doa adalah apa yang kita pikirkan. kalimat-kalimat yang berseliweran di dalam benak. doa adalah apa yang kita yakini. di saat kita mengucapkan ‘tidak tahu’ ketika bicara tentang keinginan atau tujuan. maka doa sendiri menjadi hampa. di saat kita masih penuh dengan tanya. maka doa menjadi nihil. doa menjadi jelas ketika ketika kita mengetahui. Kemudian lewat cara-Nya kita diberi petunjuk -entah apa yang dimunculkan, digeser, ditarik, dimusnahkan atau didatangkan kembali- Ya, doa menjadi jernih di saat kita sadar. bahkan di saat kita merasa belum cukup banyak bersujud untuk Dia.
-- bintaro, 10 april & 10 mei 2009  | sial | May 1, '09 10:55 AM for everyone |
saya mulai kangen mulai melankolis dua tahun bukan waktu lama namun tak bisa disebut singkat ah, waktu itu relatif
-- senayan, awal mei 2009
Hari ini saya berencana untuk pulang lebih cepat. Biasanya saya pulang kerja di atas pukul enam sore, namun karena sedang berpuasa maka saya berniat sampai ke rumah sebelum waktu buka. Jadi, saya langsung meninggalkan kantor jam 15.30. Kalau biasanya saya langsung menuju halte bus yang ada di seberang kantor, hari ini saya ingin naik kereta. Sudah lama sekali saya tidak naik kereta saat pulang kerja. Nah, karena saya ingin naik kereta maka saya harus ke stasiun Sudriman. Jalan yang saya tempuh menuju stasiun Sudirman lebih jauh dibanding jika saya naik bus. Jadi saya harus jalan kaki dari kantor saya yang berada di Senayan City ke Ratu Plaza, dan dari sana saya baru naik bus lalu berhenti di stasiun yang terletak di daerah Dukuh Atas itu. Berjalanlah saya ke halte Ratu Plaza. Sampai di sana, saya dengan pedenya langsung masuk ke dalam Kopaja yang kebetulan berpenumpang sedikit. Hap, duduk manis di dekat pintu bus. Sore itu mataharinya lumayan sangar tapi bayangan gerbong kereta yang sepi dan sejuk sudah di dalam kepala jadi hawa panas nggak begitu terasa lagi. Namun ternyata bayangan berada di atas kereta nyaman itu harus buyar ketika bus yang saya tumpangi belok kiri menuju Gatot Subroto. Damn, saya salah bus. Ini pasti bukan bus jurusan Thamrin. Saya langsung siap-siap turun saat bus mendekati Plaza Semanggi. Sambil mengecek waktu di HP, “OK, 15.40. kereta jam 16.15. masih ada waktu”, saya bergegas turun dan langsung menggunakan jurus ‘jalan cepat tanpa ngesot’ menuju halte Bendungan Hilir yang berada di dekat kampus Atmajaya. Lumayan juga kan jalan cepat dari daerah Plaza Semanggi ke halte Transjakarta Bendungan Hilir? Belum lagi jalan di haltenya lumayan panjang. Sesampainya di halte, wah-wah-wah ternyata antriannya lumayan ramai. Tak apalah, mudah-mudahan frekuensi Transjakarta yang lewat lumayan tinggi jadi saya tidak perlu berlama-lama di sini, apalagi jadwal kereta pulang ini menurut pengalaman saya selalu tepat waktu. Akhirnya saya naik Transjakarta yang kedua. Sudah jam 16.00. Dag-dig-dug tapi ya sudahlah. Mulai berharap semoga keretanya tiba-tiba terhambat di tengah jalan dan akhirnya telat sepuluh menit. Jam 16.05 saya sampai di halte Dukuh Atas. Halte yang paling dekat dengan Stasiun Sudirman yang sudah setahun tidak saya sambangi. OK, sepertinya butuh perjuangan keras dan kekuatan berjalan super dengan kecepatan turbo supaya saya bisa sampai di stasiun sebelum jam 16.15, dan matahari masih belum rela turun panggung. “Sh*t…OK, nik. Ayo kamu bisa!”. Saya berjalan cepat. Lengkap dengan adegan menyosor beberapa orang yang kebetulan berjalan di depan saya. Tapiiiiiii, setelah berjalan sekian puluh meter, saya baru sadar kalau saya salah jalan. Saya malah berjalan menuju halte lain. Ya, kamu tahu kan kalau halte Dukuh Atas itu punya jembatan yang panjang dan belok-belok itu? Nah, saya sempat dengan langkah gegap-gempita dan tanpa lihat kiri-kanan berjalan ke arah…halte yang ke Pulogadung! Saat sadar saya langsung muter balik. Itupun dengan acara lihat sana-sini dulu karena lumayan malu. Hiks, padahal jalan dari tempat turun menuju trotoar juga lumayan jauh. Sempat terpikir untuk menyerah dan memilih naik bus ke arah RatuPlaza saja supaya nanti di sana bisa naik TransBintaro dan pulang dengan tenang, tapi NGGAK BISA. Saya sudah bertekad untuk pulang naik kereta dan sampai di rumah sebelum jam enam sore hari ini! Perjuangan harus diteruskan meski sekarang sudah jam…16.10!!! Kembali berjalan dengan kecepatan turbo di bawah terik matahari sore yang mengada-ada. Kedua kaki mulai terasa sekit. Eits, jangan bilang manja atau nggak biasa jalan kaki. Kedua kaki saya ini dua hari yang lalu baru saja kram saat saya pulas tidur. Kaki kiri sekali, kaki kanan dua kali. Sumpah, nggak enak banget! Jadi saat bangunan hijau-kuning stasiun Sudirman mulai terlihat, kedua kaki ini sudah mulai nyeri. Sepuluh meter dari pintu stasiun. Sayup-sayup terdengar pengumuman dari arah stasiun. “Waduh, jangan-jangan itu kereta yangke arah Bintaro…”. OK, saya berusaha mempercapat langkah kaki dan kembali menggunakan jurus ‘nyosor’ karena lalulintas pejalan kaki lumayan padat. Sesampainya di loket, mas penjaga loket senyam-senyum sambil ngomong, “Mbak, yang jam setengah enam ya. Keretanya baru aja berangkat”. Lemas…. Akhirnya saya membeli tiket kereta jam 17.29. Sekarang jam 16.19. Masih ada waktu sekitar satu jam. Ya, dengan langkah sedikit lunglai saya menuju peron stasiun yang saat itu lumayan padat. Wah, sekarang stasiun ini jadi ramai pedagang. Dulu seingat saya hanya ada penjual majalah, penjual buah dan penjual minuman-makanan kecil. Sekarang selain yang saya sebutkan tadi ada juga penjual bakso pangsit, penjual kue-kue kecil, penjual keripik pedes, dan lain-lain. Banyak lah pokoknya. Saya sedang lumayan lelah dan situasi sedang ramai jadi agak sulit menyusuri peron stasiun Sudirman ini. Setelah bengong sekitar sepuluh menit (lagi-lagi sempat terpikir naik bus menuju Ratu Plaza lagi), akhirnya saya dapat tempat untuk duduk. Saat duduk, sempat meratapi nasib selama satu menit lalu mulai berpikir, “OK, saya punya waktu satu jam di sini. Saya nggak tahu Tuhan sedang memberi pelajaran sore ini, namun saya sepertinya dipaksa untuk diam selama satu jam. Damn, saya lupa bawa earphone. OK, yang pasti kamu nggak bisa menghabiskannya dengan mendengarkan Depeche Mode, Thom Yorke atau Dave Matthews Band, nik.”. Saya bengong. Satu menit. Dua menit. Lalu melihat ke dalam tas saya. Oya, saya belum selesai baca majalah Tempo yang saya bawa tadi pagi. Akhirnya waktu setengah jam habis untuk membaca sejarah Sutan Sjahrir. Tempo selesai. Kali ini apa? Akhirnya saya mulai menyapu pandangan sekitar Stasiun ini. Saya mulai menikmatinya. Di depan saya ada seorang mbak bertubuh subur yang menjual keripik singkong pedas dan dadar gulung. Ia menyusun bungkus-bungkus keripik itu dengan telaten. Tidak terburu-buru. Saya membayangkan diri saya menyusun bungkus-bungkus itu. Sudah pasti buru-buru dan grasa-grusu. Tapi tidak dengan mbak ini. Saya jadi makin sadar kalau saya orangnya memang nggak sabaran dan sepertinya peristiwa sore ini salah satu bentuk teguran buat orang nggak sabaran kayak saya. Lalu saya memperhatikan para pembeli keripik ini. Memang benar perempuan dan laki-laki itu berbeda. Setiap pembeli berjenis kelamin perempuan pasti memilih-milih seiap bungkus keripik dengan teliti. Dibolak-balik dulu. Dilihat keripik-keripik di bungkusan mana yang paling menggugah selera alias banyak sambelnya. Dierphatikan satu per satu, lalu mengambil dua-tiga bungkus dan membayar. Sementara kalau laki-laki. Datang, langsung menyambar satu bungkus dan dibuka lalu disantap sambil meminta sembilan bungkus lagi ke mbak penjual. Bayar lalu pergi dengan mulut masih asyik mengunyah keripik oranye membara. Akhirnya kereta yang ditunggu datang juga, dan saya harus berjibaku dengan penumpang lain saat masuk ke gerbong. Ya, penumpang kereta jam empat sore dan jam setengah enam sore memang punya perilaku berbeda. Penumpang jam setengah enam sore lebih “beringas”. Mungkin karena jumlah penumpang jauh lebih banyak sehingga kesepatan mendapat tempat duduk lebih kecil. Saya pun harus puas berdiri. Saya sudah nggak tahu lagi tampilan diri saya seruwet apa saat itu mengingat saya sedang full makeup karena siangnya saya jadi korban sesi foto dadakan. Mungkin eyeliner hitam saya sudah bleber ke mana-mana :p Entah kenapa perjalanan kereta kali ini sangat sangat lamban. Biasanya waktu tempuh Sudirman-Bintaro hanya memakan waktu sekitar tigapuluh menit. Namun sudah 30 menit dan saya masih di sekitar Palmerah. Ya, lumayan juga berdiri di kereta, sudah begitu AC-nya juga tidak sejuk. Mungkin karena penumpangnya banyak. Tapi entah kenapa saya sudah tidak kesal lagi. Dinikmati saja. Diam-diam saya juga menguping percakapan ibu-ibu di sebelah saya. Keduanya sama-sama berasal dari Magelang dan sepertinya bekerja di kantor yang sama. Salah satunya baru saja kehilangan ibunya yang memang sudah sepuh. Selebihnya, saya hanya bengong menatap Jakarta di balik jendela. Sampai di stasiun, saya disambut dengan gerimis. Gusti, terimakasih atas teguran-Mu hari ini kepada hamba-Mu yang memang tidak sabaran dan mudah kesal ini. Saya langsung berlari menuju gerombolan ojek. Hap! “Bang, jalan Mandar, ya”, lalu ngeeeeeng menuju rumah. Di rumah, Ibu saya sedang menonton TV dan Bapak sedang mandi. Setelah mengobrol sambil melahap kue-kue kecil yang saya beli di stasiun (laper, maklum puasa), saya langsung ambil wudhu dan shalat. Nikmat. Sehabis itu saya makan malam. Kebetulan ada menu favorit,nasi hangat dan sepotong ayam panggang buatan Ibu. Malam dihabiskan dengan menonton TV, makan dan mendengarkan orangtua saya menceritakan tingkah laku cucu-cucu. Entah kenapa semua terasa menyenangkan. Sederhana namun menenangkan. Saya bisa saja memilih untuk marah-marah dan mengutuk nasib saya sore ini. Namun saya tetap berpikir, kalau saya sampai rumah jam Sembilan malam (seperti yang biasa saya lakukan selama ini), saya pasti nggak mendapatkan suasana ini. Meski sore ini tidak berjalan sesuai rencana saya, namun saya tidak kecewa. Saya menikmati setiap menit yang ada, meski itu berarti menunggu di stasiun yang padat dan gerah setelah ketinggalan kereta. Saya belajar. Belajar menikmati setiap detik, setiap menit yang diberikan pada saya. Seperti sore ini — senayan-gatsu-stasiun sudirman-bintaro, 16 Maret 2009  | ironi | Mar 12, '09 2:20 AM for everyone |
’sebenarnya yang gue butuhkan adalah berbagi. Esensi dari memberi.’
‘gue juga. sesederhana itu.’
‘ya, simpel. mungkin yang dibutuhkan hampir semua orang di kota ini adalah sesuatu yang sesederhana itu.’
’seperti jaman batu. jaman di saat kita tidak dihadapkan dengan ratusan pilihan’
‘ya. andai saja”‘
‘ya. asal kita tetap jujur, pasti akan ada”
[diam.]
– percakapan terjadi di dalam restoran yang berada di sebuah mal bergengsi. ice lemon tea-ice cappucinno-melted cheese fries-2 manusia umur pertengahan 20an.
jakarta, tengah februari 2009  | belajar | Feb 23, '09 12:56 AM for everyone |
sebenarnya yang diperlukan adalah saya terimakasih bukan saya ingin atau saya mau apalagi kamu harus – bintaro, februari 2009 been thinking all those fears, worries, whatever..
they're starting to make no sense
it's kinda sad to see that i've been letting all of those things to consume me
-- bintaro, februari 2008 happiness
is not
the
ultimate goal
[jakarta.27.01.09]  | am | Jan 22, '09 6:47 PM for everyone |
unbelievably happy
now
thank You so much
:) You have to make this life liveable
But when you think I've had enough from your sea of love
I'll take more than another riverfull
Yes,
and I'll make it all worthwhile
I'll make your heart smile
[depeche mode, strange love] Once there was a great storm Pushed my head beneath the waves, I was gone Underneath the walnut tree Where you said you'd wait for me And I waited a long, long time
I waited a long, long time
Why, why do I come here? Seeking out the memories I handed Cause you put your spell on me Made me live a memory And I'm frozen in just the wrong time I waited a long, long time
[keane.walnut tree] Tolong! Kalau sudah berhubungan dengan lotion, body cream dan teman-temannya saya LEMAH. Maksud hati mencari keperluan lain, eh lewat The Body Shop ada ini  Wanginya enak dan saya suka lotion The Body Shop. Harganya juga sedang miring. Tapi lotion di rumah sudah banyak. Uuuhhh, sepertinya saya nggak boleh menyusuri daerah sekitar The Body Shop, deh. Jangan ajak-ajak saya ke The Body Shop. Tapi kalo mau ngasih kado boleh. Saya suka yang strawberry. Shea juga enak. hihihihi ;) ketika sedang menyapu pandangan di terminal pagi Tuhan sedang ketika berjalan tertatihtatih Tuhan sedang ketika membasuh wajah di kamar mandi Tuhan sedang ketika setumpuk uang digenggam Tuhan sedang ketika mengeluh tak pernah cukup Tuhan sedang ketika kecewa berkalikali Tuhan sedang ketika menerima pujian tak disangka Tuhan sedang ketika menangis sendiri di kamar Tuhan sedang ketika mencium tangan orangtua Tuhan sedang ketika menyaksikan lagit senja oranye Tuhan sedang ketika temanmu berbicara saat makan siang Tuhan sedang ketika sendiri Tuhan sedang
Tuhan sedang bicara
-- Jakarta-Bintaro, akhir november 2008 Singkat cerita aku tahu kenapa aku begitu menikmati permainan kita. [awal] begitu mengesankan. Begitu lumer bagai es krim vanilla yang kamu jilati dengan semangat. Namun begitulah es krim vanilla. Rasa manisnya begitu sederhana. Mengingatkanmu dengan nyamannya masa kecil saat kamu tidak mengerti apapun selain manis. Namun kemudian kamu mulai bosan menjilatinya karena tak ada kejutan di sana. Setelah itu kamu telah terbiasa dengan es krim stroberi yang manis namun asam. Telah biasa dengan choco chips yang sesekali menawarkan rasa pahit. Bahkan tidak terhitung berapa kali kamu harus menghabiskan es krim blueberry, mint dan jeruk dalam satu waktu sekaligus. Kamu dan aku sedang samasama merasa kelelahan dengan hantaman manis, asam, pahit, asin, gurih, hingga semriwing. Lelah hingga lidah kita seakan kebas. Saat itu kita memutuskan untuk melatih diri dengan sesuatu yang sederhana saja. Itu bisa didapatkan dengan Es krim vanilla. Tanpa taburan coklat atau almond. Tanpa sebuah ceri segar mengkilat atau potongan-potongan stroberi menggemaskan. Tanpa usaha.
Tak ada yang menyangka. Ternyata kamu yang begitu rumit ternyata hanya membutuhkan semangkuk es krim vanilla. Es krim Vanilla lumer dijilat.
Ups, setetes jatuh di punggung tanganmu
Lengket.
Kamu mulai terganggu.
Menyebalkan
[akhir] – bintaro, november 2008
"muntahan-muntahan" lain bisa dibaca di rumah saya yang lain kok justru makin sembarangan?
kenapa ya?
-- bintaro, november 2008  | c-a-d | Nov 12, '08 2:12 AM for everyone |
sudah sebelas tahun lebih dan saya selalu kangen kalian
nanti sore bertemu, kan?
:)
 | kiwi | Nov 11, '08 10:56 AM for everyone |
dia itu manis dan menyenangkan seperti cupcake dengan krim lembut di atasnya.
saya seperti kiwi. ada sedikit manis namun sering didominasi asam.
kiwi tidak bisa jadi cupcake
amin saya juga pengen sih, pak mari berdoa semoga di masa muda ini kita bisa berkarya yang bermanfaat. dapat rejeki yang baik. pensiun dan masih bisa menikmati hidup.
super
kadang miris juga melihat seseorang yang dimanfaatkan dan tahu ia dimanfaatkan tetapi ia toh menikmati proses memanfaatkan-dimanfaatkan itu.
kalau mau, saya bisa memanfaatkan kamu dengan cara saya dan mungkin kamu akan menikmatinya tapi bukan itu yang saya inginkan meski mungkin itu yang kamu mau.
mendapatkan situasi yang berulang kali dialami memang membuat seseorang menjadi terbiasa dan diamdiam nyaman dengan kondisinya.
benar salah itu relatif.  | doa | Oct 27, '08 4:36 AM for everyone |
beri saya kesempatan untuk
percaya
| |